Friday, April 15, 2016

LOVABLE COUPLE - First (1)


Aku mendengus. Membanting tubuh pada kursi yang tepat berada di samping Reva. Kupandang dia sekilas, lalu menelungkupkan wajah di atas meja.
“Kenapa?” Reva menelengkan kepalanya agar sejajar dengan kepalaku.
Aku mendengus, lalu menggeleng. Reva mengobrak-abrik isi tasnya, lalu menyerahkan buku tugasnya padaku.
“Udah kelar.” Sambutku.
“Jadi?”
Aku berdiri. Mengacak-acak rambut, mengatur nafas sambil mempertimbangkan antara memberi tahu reva atau diam saja.
“Jangan sok rahasia-rahasiaan lah.” Gadis itu lalu menumpuk buku diatas mejanya. Aku cuma bisa nelangsa.
“Kamu pernah ribut ga, va?” aku memandangnya. “Sama mas bayumu?”
“Pernah lah.” Jawabnya sambil mengalihkan pandangannya dariku. Pertanda pertanyaanku tidak terlalu penting dan menbutuhkan konsentrasi untuk dijawab.
Kalau sudah begini, aku jadi ilang mood untuk curhat. Reva selalu nggak peduli kalau aku curhat tentang pacarku. Buat dia, masalah cinta nggak penting dibahas. Nggak urgent.
Aku memandangi papan tulis hitam dengan tatapan hampa. Masih jam tujuh. Sekolah belum ramai, guru-guru juga belum pada datang. Tanpa berfikir dua kali, aku merogoh tas dan memberikan buku tugasku pada Reva. Gadis itu melongo.
“Mau kemana?”
“Bilang aja sama Bu Sri, aku diare.”
“Aslinya kamu mau ke mana?” Reva berusaha menahan langkahku.
“Nyantai aja. Tunggu kabar aja besok.” Sebelum reva mengajukan pertanyaan lanjutan, aku kabur setengah berlari menuju parkiran, lalu melepas sepeda gunung kesayanganku yang sudah agak-agak berkarat.
Ponselku bergetar, pasti dari Reva. Tidak kuperdulikan. Langsung saja kugenjot sepeda yang sudah setahun ini menemaniku pulang dan pergi sekolah. Jalanan masih lengang. Aku masih belum tau mau membolos ke mana.
Kembali teringat kejadian malam tadi. Saat Anggaku pamit ke Semarang. Aku sadar, seharusnya nggak marah. Dia perginya kan buat tugas. Tapi aku kesal.
Aku memotong laju becak yang melintas persis di desebelahku. Tapi ternyata, ada lubang yang lumayan besar di depan. Sontak kubelokkan laju sepeda ke sisi kanan. Bersamaan  dengan itu terdengar bunyi Brakkkk yang keras.
Aku meringis, dengkul, telapak tangan dan mata kakiku terasa nyeri. Beberapa orang berkerumun ke arahku. Ada yang memaki-maki dan mengataiku bodoh tapi sudah tak kuperdulikan lagi. Tiba-tiba saja air mataku mengalir pelan. Orang-orang mulai diam. Mereka membantuku berdiri tapi tidak lagi marah-marah dan mengata-ngataiku.
“Ngelamun ya, Ra?” seseorang membersihkan pasir dari lengan kemeja sekolahku. Aku menoleh. Ternyata kak reza, abangnya Reva.
“Iya nih kak.” Aku nyengir meski mataku berair, lalu mengambil sepeda yang baru saja diberdirikan oleh seorang bapak-bapak.
“Makasih ya, Pak.” Nggak lupa aku ucapin makasih sama bapak-apak yang sudah menolongku barusan. Bapak itu tersenyum lalu men-starter motornya.
“Trus kenapa nangis? Sakit kali ya?” Kak reza memperhatikan luka yang ada di dengkulku. Aku menggeleng, tapi kemungkinan besar dia tidak melihatnya. Dia sepertinya serius sekali memperhatikan lukaku.
“Za!!” Seorang cowok berambut cepak berteriak dari atas vespa yang terparkir di seberang jalan.
“Duluan aja, Di. Ntar malam kususul. Yang tabrakan temen adikku.”
Cowok di sebrang menganggukkan kepala. Sedetik kemudian sudah tancap gas entah kemana.
Kak reza melihat jam kulit yang melingkar di tangannya. “Kakak antar aja ya. Masih telat sepuluh menit kok. Pasti nggak marah gurunya.”

0 comments:

Post a Comment

Created By Sora Templates