LOVABLE COUPLE - First (1)
Aku mendengus. Membanting tubuh pada kursi yang tepat berada di samping Reva. Kupandang dia sekilas, lalu menelungkupkan wajah di atas meja.
“Kenapa?” Reva menelengkan kepalanya
agar sejajar dengan kepalaku.
Aku mendengus, lalu menggeleng.
Reva mengobrak-abrik isi tasnya, lalu menyerahkan buku tugasnya padaku.
“Udah kelar.” Sambutku.
“Jadi?”
Aku berdiri. Mengacak-acak
rambut, mengatur nafas sambil mempertimbangkan antara memberi tahu reva atau
diam saja.
“Jangan sok rahasia-rahasiaan
lah.” Gadis itu lalu menumpuk buku diatas mejanya. Aku cuma bisa nelangsa.
“Kamu pernah ribut ga, va?” aku
memandangnya. “Sama mas bayumu?”
“Pernah lah.” Jawabnya sambil
mengalihkan pandangannya dariku. Pertanda pertanyaanku tidak terlalu penting
dan menbutuhkan konsentrasi untuk dijawab.
Kalau sudah begini, aku jadi
ilang mood untuk curhat. Reva selalu
nggak peduli kalau aku curhat tentang pacarku. Buat dia, masalah cinta nggak
penting dibahas. Nggak urgent.
Aku memandangi papan tulis hitam
dengan tatapan hampa. Masih jam tujuh. Sekolah belum ramai, guru-guru juga
belum pada datang. Tanpa berfikir dua kali, aku merogoh tas dan memberikan buku
tugasku pada Reva. Gadis itu melongo.
“Mau kemana?”
“Bilang aja sama Bu Sri, aku
diare.”
“Aslinya kamu mau ke mana?” Reva
berusaha menahan langkahku.
“Nyantai aja. Tunggu kabar aja
besok.” Sebelum reva mengajukan pertanyaan lanjutan, aku kabur setengah berlari
menuju parkiran, lalu melepas sepeda gunung kesayanganku yang sudah agak-agak
berkarat.
Ponselku bergetar, pasti dari Reva.
Tidak kuperdulikan. Langsung saja kugenjot sepeda yang sudah setahun ini
menemaniku pulang dan pergi sekolah. Jalanan masih lengang. Aku masih belum tau
mau membolos ke mana.
Kembali teringat kejadian malam
tadi. Saat Anggaku pamit ke Semarang. Aku sadar, seharusnya nggak marah. Dia
perginya kan buat tugas. Tapi aku kesal.
Aku memotong laju becak yang
melintas persis di desebelahku. Tapi ternyata, ada lubang yang lumayan besar di
depan. Sontak kubelokkan laju sepeda ke sisi kanan. Bersamaan dengan itu terdengar bunyi Brakkkk yang
keras.
Aku meringis, dengkul, telapak
tangan dan mata kakiku terasa nyeri. Beberapa orang berkerumun ke arahku. Ada
yang memaki-maki dan mengataiku bodoh tapi sudah tak kuperdulikan lagi.
Tiba-tiba saja air mataku mengalir pelan. Orang-orang mulai diam. Mereka
membantuku berdiri tapi tidak lagi marah-marah dan mengata-ngataiku.
“Ngelamun ya, Ra?” seseorang
membersihkan pasir dari lengan kemeja sekolahku. Aku menoleh. Ternyata kak
reza, abangnya Reva.
“Iya nih kak.” Aku nyengir meski
mataku berair, lalu mengambil sepeda yang baru saja diberdirikan oleh seorang
bapak-bapak.
“Makasih ya, Pak.” Nggak lupa
aku ucapin makasih sama bapak-apak yang sudah menolongku barusan. Bapak itu
tersenyum lalu men-starter motornya.
“Trus kenapa nangis? Sakit kali
ya?” Kak reza memperhatikan luka yang ada di dengkulku. Aku menggeleng, tapi
kemungkinan besar dia tidak melihatnya. Dia sepertinya serius sekali
memperhatikan lukaku.
“Za!!” Seorang cowok berambut
cepak berteriak dari atas vespa yang terparkir di seberang jalan.
“Duluan aja, Di. Ntar malam
kususul. Yang tabrakan temen adikku.”
Cowok di sebrang menganggukkan
kepala. Sedetik kemudian sudah tancap gas entah kemana.
Kak reza melihat jam kulit yang
melingkar di tangannya. “Kakak antar aja ya. Masih telat sepuluh menit kok.
Pasti nggak marah gurunya.”

0 comments:
Post a Comment