Friday, April 15, 2016

COOKING SKANDAL (1) - About Him and Her


HIM
Danu memutar keran shower, dan air yang sejak tadi mengguyur tubuhnya henti. Dia menyambar handuk putih yang tergantung di samping wastafel dan melilitkannya di pinggang. Saat membuka pintu, Danu terperangah sejenak menyaksikan ibunya sudah menunggu di dalam kamar.

“Ibu? Bikin kaget aja. Pintu kamarnya kan aku kunci, kok ibu bisa masuk?”

“Ibu punya cadangannya. Sekarang kamu duduk sini, ibu mau ngomong.” Nyonya Widiatama yang tengah duduk di kasur putranya memberi isyarat agar Danu duduk di sebelahnya.

“Aku kan baru kelar mandi, Bu. Nanti aja ngobrolnya ya. aku ganti baju dulu.” Danu berjalan menuju lemari pakayan dan menarik kaus polo warna putih dan langsung mengenakannya.

“Nggak mau.” Nyonya Widiatama berdiri lalu menghampiri putranya, “Kamu itu selalu begitu. Kalau diajak ngobrol, jawabnya pasti nanti. Ibu suka lupa, kamu juga jarang di rumah. Pokoknya kita harus ngobrol sekarang.”

Danu berbalik, berhadapan dengan ibunya, kemudian dia mencium pipi ibunya dengan gemas lalu cengar-cengir melihat ibunya keheranan dengan tingkah lakunya itu. 

“Ibu mau ngomong apa?” Dia membimbing ibunya duduk di sofa baca yang terletak di sudut ruangan, bersebelahan dengan jendela yang menghadap ke kebun. 

“Tahun ini usiamu udah tiga puluh, Ibu pengen kamu cepat nikah. Dinar juga sudah punya calon, tapi dia nggak mau ngelangkahin abangnya.”

“Lha, mas Danang kan udah nikah. Malah udah punya anak dua.” Danu mencoba berseloroh menanggapi ungkapan ibunya, “Kalau aku nggak masalah. Dinar nikah duluan aja, aku nggak marah kok.” 

Dia lantas cepat-cepat menambahi ucapannya saat melihat ibunya cemberut mendengar leluconnya.

“Yang begini ini kok dibecandain sih, Nu. Ibu nggak suka dengernya.”

“Ya maaf, Bu. Jodohnya belum ada, belum ketemu. Ibu mau nyariin?” 

“Udah sering Ibu kenalin sama anak temen Ibu, tapi nggak pernah ada yang kamu seriusin. Kamu itu masih suka perempuan kan, Nu?” Nyonya widiatama melirik putranya yang tercengang mendengar pertanyaan sang Ibu.

“Masa anaknya dituduh yang enggak-enggak sih, Bu. Aku ini kerjanya seharian, jarang punya waktu libur, jadi perempuannya pada nggak tahan. Pulang ke rumah aja paling-paling seminggu sekali karena aku kangen sama Ibu.”

“Makanya kamu pinter-pinter lah bagi waktu. Kamu ini anak ibu paling cakep tapi kok paling susah jodohnya.” Nyonya Widiatama beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan putranya sambil tetap mengomel dengan suara yang pelan.

***
Danu menelentangkan tubuhnya di atas kasur dan memikirkan ulang kata-kata ibunya. Menurutnya, pernikahan bukan hanya sekedar pelengkap hidup. Dia ingin menjalaninya bersama orang yang benar-benar memahaminya dan ingin menghabiskan sepanjang waktu bersamanya.

Apakah dia pernah jatuh cinta? Tentu saja. Tapi itu sudah lama sekali, bahkan dia sudah hampir melupakannya.

0 comments:

Post a Comment

Created By Sora Templates