COOKING SKANDAL (2) - About Him and Her
HER
Bunyi musik berdentum-dentum dalam ruangan remang-remang yang
di dominasi lampu disko yang berkedap-kedip. Ruangan itu bukan club house atau sejenisnya, melainkan
hanya sebuah rumah berukuran medium yang disulap menjadi tempat pesta untuk
merayakan ulang tahun seorang gadis berusia dua puluh dua tahun.
“Minum, Ren?” Seorang gadis berambut ikal sepunggung
mengenakan mini dress warna merah menawarkan segelas minuman berwarna biru
pucat kepada gadis yang baru selesai menari dan menghampiri mejanya.
“Rena nggak minum. Dia cuma suka nari sampe lemes.” Elen,
sahabat Rena yang menjawab sambil menggeser posisi duduk agar Rena bisa duduk
di sebelahnya.
Saat mengambil clotch,
Rena menyadari bahwa ponselnya bergetar. “Ya, ma. Aku lagi di pesta temen.”
Jawabnya begitu sambungan telepon terhubung.
“Kenapa berisik, Ren? Kamu pesta-pesta nggak jelas lagi?
Kalau kamu pakai kartu kredit buat main di tempat nggak bener, papa bisa tau
dan kartu kredit kamu bisa dibekukan lagi. Kali ini mama nggak bakalan bisa
ngebujuk papa.”
“Nggak, Ma. Ini beneran pesta ulang tahun temen aku. Apa?
Penting? Nggak denger? Bentar deh, aku keluar dulu.” Rena berdiri dan memberi
isyarat pada Elen bahwa mamanya menelepon.
Rena berdiri di samping pos security yang agak tenang dan
aman dari hingar-bingar pesta, lalu kembali melekatkan ponselnya di telinga
“Aku udah di luar, Ma.”
“Ren, mama mau minta tolong sama kamu. Bisa kan pulang
sekarang, nanti mama cerita di rumah.”
“Acara baru separuh jalan, Ma. Mau ngomongin apa sih?”
“Nggak bisa besok, Ren. Mama udah bilang kamu bisa dan ini
keperluannya buat besok.”
“Apaan sih, Ma? Cerita sekarang aja lah. Nyampe rumah juga
udah capek, udah nggak fokus juga.”
“Ya udah lah, terserah.” Nyonya Bastian akhirnya mengalah,
“Ada temen mama yang pengen ngenalin anak cowoknya sama kamu. Mau ya?”
“Kayak perjodohan gitu? Nggak mau ah, memangnya zaman batu.”
“Alah, Ren, cuma kenalan aja dulu, kalau cocok baru lanjut.
Nggak ada ruginya kan? Katanya anaknya cakep, udah punya usaha sendiri.”
“Nggak ah, paling lajang tua yang nggak laku-laku. Coba mama
pikir, kalau beneran cakep dan oke, kenapa musti dicari-cariin jodohnya. Kalau
buat cari pasangan aja minta bantuan orang, mana bisa diandalkan.”
“Hush… nggak boleh ngomong gitu, Ren. Namanya orang sibuk,
lagian kalau kamu nggak suka ya nggak usah dilanjutin. Tapi besok kamu mau ya
ketemuan, mama udah bilang kalau kamu bisa.”
“Males, Ma. Kalau mama minat, mama aja yang datang. Rena
janji nggak bakal ngadu papa deh.”
“Hush… sembarangan. Kamu beneran nggak mau pergi? Ya udah,
kalau kamu tetap nggak mau, mama bisa aja bikin papa setuju untuk bekuin kartu
kredit kamu.”
“Masa gitu sih, Ma? Kok main ancam sih. Jadi aku bayar makan,
beli baju sama bensin pake apa?” Rena mulai merajuk.
“Terserah kamu.” Nyonya Bastian menjawab seacuh mungkin.
“Mama!!” Rena berteriak tertahan karena kesal. Rena selalu
memperoleh apa yang diinginkannya dan mampu berkelit dari segala hukuman atas
kesalahannya. Dan salah satu pendukung utama aksi manjanya itu adalah mamanya.
Seandainya mama sungguh-sungguh terhadap ucapannya dan tidak lagi membelanya,
dia akan berada dalam masalah besar. Jadi Rena memutuskan untuk menyerah kali
ini “Cuma ketemu kan, Ma? Kalau dia suka sama aku tapi aku nggak, aku boleh
nolak kan?”
“Iya terserah kamu. Lagian mama cuma pengen nunjukin sama
temen-temen arisan kalau anak mama tuh cantik, banyak yang suka dan banyak yang
patah hati karena ditolak. Habisnya kamu jarang mau kalau mama ajakin. Ibu-ibu
yang lain pada suka pamer, anaknya udah kerja di sini, jadi dokter di sana atau
tunangan sama anak pengusaha mana. Kan mama juga jadi kepingin pamer juga.”
“Idih, memangnya papa nggak cukup hebat buat mama banggain.
Bang Renal sama Adrian juga kurang apa coba?”
Nyonya Bastian tertawa mendengar anaknya ngedumel panjang
lebar. “Iya deh. Yang pengting, besok kamu jangan sampe telat. Sekarang juga
jangan pulang terlalu malam, papa udah ribut dari tadi, dia tanya kenapa kamu
belum pulang juga.”

0 comments:
Post a Comment