Friday, April 22, 2016

COOKING SKANDAL (2) - About Him and Her




HER
Bunyi musik berdentum-dentum dalam ruangan remang-remang yang di dominasi lampu disko yang berkedap-kedip. Ruangan itu bukan club house atau sejenisnya, melainkan hanya sebuah rumah berukuran medium yang disulap menjadi tempat pesta untuk merayakan ulang tahun seorang gadis berusia dua puluh dua tahun.

“Minum, Ren?” Seorang gadis berambut ikal sepunggung mengenakan mini dress warna merah menawarkan segelas minuman berwarna biru pucat kepada gadis yang baru selesai menari dan menghampiri mejanya.

“Rena nggak minum. Dia cuma suka nari sampe lemes.” Elen, sahabat Rena yang menjawab sambil menggeser posisi duduk agar Rena bisa duduk di sebelahnya.

Saat mengambil clotch, Rena menyadari bahwa ponselnya bergetar. “Ya, ma. Aku lagi di pesta temen.” Jawabnya begitu sambungan telepon terhubung.

“Kenapa berisik, Ren? Kamu pesta-pesta nggak jelas lagi? Kalau kamu pakai kartu kredit buat main di tempat nggak bener, papa bisa tau dan kartu kredit kamu bisa dibekukan lagi. Kali ini mama nggak bakalan bisa ngebujuk papa.”

“Nggak, Ma. Ini beneran pesta ulang tahun temen aku. Apa? Penting? Nggak denger? Bentar deh, aku keluar dulu.” Rena berdiri dan memberi isyarat pada Elen bahwa mamanya menelepon.

Rena berdiri di samping pos security yang agak tenang dan aman dari hingar-bingar pesta, lalu kembali melekatkan ponselnya di telinga “Aku udah di luar, Ma.”

“Ren, mama mau minta tolong sama kamu. Bisa kan pulang sekarang, nanti mama cerita di rumah.”
“Acara baru separuh jalan, Ma. Mau ngomongin apa sih?”

“Nggak bisa besok, Ren. Mama udah bilang kamu bisa dan ini keperluannya buat besok.”

“Apaan sih, Ma? Cerita sekarang aja lah. Nyampe rumah juga udah capek, udah nggak fokus juga.”

“Ya udah lah, terserah.” Nyonya Bastian akhirnya mengalah, “Ada temen mama yang pengen ngenalin anak cowoknya sama kamu. Mau ya?”

“Kayak perjodohan gitu? Nggak mau ah, memangnya zaman batu.”

“Alah, Ren, cuma kenalan aja dulu, kalau cocok baru lanjut. Nggak ada ruginya kan? Katanya anaknya cakep, udah punya usaha sendiri.”

“Nggak ah, paling lajang tua yang nggak laku-laku. Coba mama pikir, kalau beneran cakep dan oke, kenapa musti dicari-cariin jodohnya. Kalau buat cari pasangan aja minta bantuan orang, mana bisa diandalkan.”

“Hush… nggak boleh ngomong gitu, Ren. Namanya orang sibuk, lagian kalau kamu nggak suka ya nggak usah dilanjutin. Tapi besok kamu mau ya ketemuan, mama udah bilang kalau kamu bisa.”

“Males, Ma. Kalau mama minat, mama aja yang datang. Rena janji nggak bakal ngadu papa deh.” 

“Hush… sembarangan. Kamu beneran nggak mau pergi? Ya udah, kalau kamu tetap nggak mau, mama bisa aja bikin papa setuju untuk bekuin kartu kredit kamu.”

“Masa gitu sih, Ma? Kok main ancam sih. Jadi aku bayar makan, beli baju sama bensin pake apa?” Rena mulai merajuk.

“Terserah kamu.” Nyonya Bastian menjawab seacuh mungkin.

“Mama!!” Rena berteriak tertahan karena kesal. Rena selalu memperoleh apa yang diinginkannya dan mampu berkelit dari segala hukuman atas kesalahannya. Dan salah satu pendukung utama aksi manjanya itu adalah mamanya. Seandainya mama sungguh-sungguh terhadap ucapannya dan tidak lagi membelanya, dia akan berada dalam masalah besar. Jadi Rena memutuskan untuk menyerah kali ini “Cuma ketemu kan, Ma? Kalau dia suka sama aku tapi aku nggak, aku boleh nolak kan?”

“Iya terserah kamu. Lagian mama cuma pengen nunjukin sama temen-temen arisan kalau anak mama tuh cantik, banyak yang suka dan banyak yang patah hati karena ditolak. Habisnya kamu jarang mau kalau mama ajakin. Ibu-ibu yang lain pada suka pamer, anaknya udah kerja di sini, jadi dokter di sana atau tunangan sama anak pengusaha mana. Kan mama juga jadi kepingin pamer juga.”

“Idih, memangnya papa nggak cukup hebat buat mama banggain. Bang Renal sama Adrian juga kurang apa coba?” 

Nyonya Bastian tertawa mendengar anaknya ngedumel panjang lebar. “Iya deh. Yang pengting, besok kamu jangan sampe telat. Sekarang juga jangan pulang terlalu malam, papa udah ribut dari tadi, dia tanya kenapa kamu belum pulang juga.”

Rena mengiyakan dan menutup sambungan telpon dengan wajah cemberut.

Friday, April 15, 2016

Happy First Day


Yeay...
Akhirnya blog ini hadir juga ke ranah dunia maya. Padahal tadi juga masih menggalau, karena bingung nentuin nama blog dan berencana pending lagi  proses pembuatannya. Tapi berhubung memang lagi nggak ada kerjaan dan takutnya besok-besok kerjaan numpuk, jadilah si berbagi cerita suka-suka ini.

Sebenernya sih saya udah punya blog abal-abal yang isinya curhatan abal-abal dan pengalaman jalan-jalan yang gitu deh... Tapi kok saya kepingin bikin satu blog lagi yang isinya karya pribadi yang nggak laku kalau ditawain ke penerbit tapi sayang buat dianggurin di eksternal hardisk komputer.

Nah, idenya udah muncul sejak jaman kapan gitu, tapi males terus ngerjainnya. Dan berhubung tulisan dalam blog ini semuanya karya pribadi, jadi covernya belum ada dan saya agak kesulitan untuk mendisainnya. Jadilah saya caplokin foto-foto aktris dan edit sana- sini lalu di tempelin judul tulisan.

Nah, karena saya teramat antusias dan bahagia karna blog tak seberapa ini telah lahir ke dunia, saya buatlah tulisan ini untuk perayaannya (nggak penting banget ya?)

Sudah lah, yang pasti dua tulisan kategori novel untuk chapter pertama udah saya post. Dan rencananya, yang bakalan coming soon itu ada Her Eyes dan Become Stranger. Tapi berhubung kapasitas menulis saya bergantung mood, saya belum bisa janjiin berapa hari sekali bakalan up date.

Tapi saya janji (mirip dengan janjinya penulis naskah Descendant of The Sun :)), saya bakalan berusaha buat nggak ngecewaiin pembaca. Heheheheh.... belagu banget kan ya, padahal yang nyamperin blog ini aja blom tentu rame. Tapi nggak apa, optimis itu harus. Ganbatee.....

LOVABLE COUPLE - First (1)


Aku mendengus. Membanting tubuh pada kursi yang tepat berada di samping Reva. Kupandang dia sekilas, lalu menelungkupkan wajah di atas meja.
“Kenapa?” Reva menelengkan kepalanya agar sejajar dengan kepalaku.
Aku mendengus, lalu menggeleng. Reva mengobrak-abrik isi tasnya, lalu menyerahkan buku tugasnya padaku.
“Udah kelar.” Sambutku.
“Jadi?”
Aku berdiri. Mengacak-acak rambut, mengatur nafas sambil mempertimbangkan antara memberi tahu reva atau diam saja.
“Jangan sok rahasia-rahasiaan lah.” Gadis itu lalu menumpuk buku diatas mejanya. Aku cuma bisa nelangsa.
“Kamu pernah ribut ga, va?” aku memandangnya. “Sama mas bayumu?”
“Pernah lah.” Jawabnya sambil mengalihkan pandangannya dariku. Pertanda pertanyaanku tidak terlalu penting dan menbutuhkan konsentrasi untuk dijawab.
Kalau sudah begini, aku jadi ilang mood untuk curhat. Reva selalu nggak peduli kalau aku curhat tentang pacarku. Buat dia, masalah cinta nggak penting dibahas. Nggak urgent.
Aku memandangi papan tulis hitam dengan tatapan hampa. Masih jam tujuh. Sekolah belum ramai, guru-guru juga belum pada datang. Tanpa berfikir dua kali, aku merogoh tas dan memberikan buku tugasku pada Reva. Gadis itu melongo.
“Mau kemana?”
“Bilang aja sama Bu Sri, aku diare.”
“Aslinya kamu mau ke mana?” Reva berusaha menahan langkahku.
“Nyantai aja. Tunggu kabar aja besok.” Sebelum reva mengajukan pertanyaan lanjutan, aku kabur setengah berlari menuju parkiran, lalu melepas sepeda gunung kesayanganku yang sudah agak-agak berkarat.
Ponselku bergetar, pasti dari Reva. Tidak kuperdulikan. Langsung saja kugenjot sepeda yang sudah setahun ini menemaniku pulang dan pergi sekolah. Jalanan masih lengang. Aku masih belum tau mau membolos ke mana.
Kembali teringat kejadian malam tadi. Saat Anggaku pamit ke Semarang. Aku sadar, seharusnya nggak marah. Dia perginya kan buat tugas. Tapi aku kesal.
Aku memotong laju becak yang melintas persis di desebelahku. Tapi ternyata, ada lubang yang lumayan besar di depan. Sontak kubelokkan laju sepeda ke sisi kanan. Bersamaan  dengan itu terdengar bunyi Brakkkk yang keras.
Aku meringis, dengkul, telapak tangan dan mata kakiku terasa nyeri. Beberapa orang berkerumun ke arahku. Ada yang memaki-maki dan mengataiku bodoh tapi sudah tak kuperdulikan lagi. Tiba-tiba saja air mataku mengalir pelan. Orang-orang mulai diam. Mereka membantuku berdiri tapi tidak lagi marah-marah dan mengata-ngataiku.
“Ngelamun ya, Ra?” seseorang membersihkan pasir dari lengan kemeja sekolahku. Aku menoleh. Ternyata kak reza, abangnya Reva.
“Iya nih kak.” Aku nyengir meski mataku berair, lalu mengambil sepeda yang baru saja diberdirikan oleh seorang bapak-bapak.
“Makasih ya, Pak.” Nggak lupa aku ucapin makasih sama bapak-apak yang sudah menolongku barusan. Bapak itu tersenyum lalu men-starter motornya.
“Trus kenapa nangis? Sakit kali ya?” Kak reza memperhatikan luka yang ada di dengkulku. Aku menggeleng, tapi kemungkinan besar dia tidak melihatnya. Dia sepertinya serius sekali memperhatikan lukaku.
“Za!!” Seorang cowok berambut cepak berteriak dari atas vespa yang terparkir di seberang jalan.
“Duluan aja, Di. Ntar malam kususul. Yang tabrakan temen adikku.”
Cowok di sebrang menganggukkan kepala. Sedetik kemudian sudah tancap gas entah kemana.
Kak reza melihat jam kulit yang melingkar di tangannya. “Kakak antar aja ya. Masih telat sepuluh menit kok. Pasti nggak marah gurunya.”

COOKING SKANDAL (1) - About Him and Her


HIM
Danu memutar keran shower, dan air yang sejak tadi mengguyur tubuhnya henti. Dia menyambar handuk putih yang tergantung di samping wastafel dan melilitkannya di pinggang. Saat membuka pintu, Danu terperangah sejenak menyaksikan ibunya sudah menunggu di dalam kamar.

“Ibu? Bikin kaget aja. Pintu kamarnya kan aku kunci, kok ibu bisa masuk?”

“Ibu punya cadangannya. Sekarang kamu duduk sini, ibu mau ngomong.” Nyonya Widiatama yang tengah duduk di kasur putranya memberi isyarat agar Danu duduk di sebelahnya.

“Aku kan baru kelar mandi, Bu. Nanti aja ngobrolnya ya. aku ganti baju dulu.” Danu berjalan menuju lemari pakayan dan menarik kaus polo warna putih dan langsung mengenakannya.

“Nggak mau.” Nyonya Widiatama berdiri lalu menghampiri putranya, “Kamu itu selalu begitu. Kalau diajak ngobrol, jawabnya pasti nanti. Ibu suka lupa, kamu juga jarang di rumah. Pokoknya kita harus ngobrol sekarang.”

Danu berbalik, berhadapan dengan ibunya, kemudian dia mencium pipi ibunya dengan gemas lalu cengar-cengir melihat ibunya keheranan dengan tingkah lakunya itu. 

“Ibu mau ngomong apa?” Dia membimbing ibunya duduk di sofa baca yang terletak di sudut ruangan, bersebelahan dengan jendela yang menghadap ke kebun. 

“Tahun ini usiamu udah tiga puluh, Ibu pengen kamu cepat nikah. Dinar juga sudah punya calon, tapi dia nggak mau ngelangkahin abangnya.”

“Lha, mas Danang kan udah nikah. Malah udah punya anak dua.” Danu mencoba berseloroh menanggapi ungkapan ibunya, “Kalau aku nggak masalah. Dinar nikah duluan aja, aku nggak marah kok.” 

Dia lantas cepat-cepat menambahi ucapannya saat melihat ibunya cemberut mendengar leluconnya.

“Yang begini ini kok dibecandain sih, Nu. Ibu nggak suka dengernya.”

“Ya maaf, Bu. Jodohnya belum ada, belum ketemu. Ibu mau nyariin?” 

“Udah sering Ibu kenalin sama anak temen Ibu, tapi nggak pernah ada yang kamu seriusin. Kamu itu masih suka perempuan kan, Nu?” Nyonya widiatama melirik putranya yang tercengang mendengar pertanyaan sang Ibu.

“Masa anaknya dituduh yang enggak-enggak sih, Bu. Aku ini kerjanya seharian, jarang punya waktu libur, jadi perempuannya pada nggak tahan. Pulang ke rumah aja paling-paling seminggu sekali karena aku kangen sama Ibu.”

“Makanya kamu pinter-pinter lah bagi waktu. Kamu ini anak ibu paling cakep tapi kok paling susah jodohnya.” Nyonya Widiatama beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan putranya sambil tetap mengomel dengan suara yang pelan.

***
Danu menelentangkan tubuhnya di atas kasur dan memikirkan ulang kata-kata ibunya. Menurutnya, pernikahan bukan hanya sekedar pelengkap hidup. Dia ingin menjalaninya bersama orang yang benar-benar memahaminya dan ingin menghabiskan sepanjang waktu bersamanya.

Apakah dia pernah jatuh cinta? Tentu saja. Tapi itu sudah lama sekali, bahkan dia sudah hampir melupakannya.
Created By Sora Templates